Depok, Di Juluki Aktivis “Rambut Perak” , Eman Sutriadi adalah penanda bahwa kekuasaan sedang diawasi. Aktivis lintas Orde Baru ini tidak hadir untuk mencari panggung, tetapi untuk menguji keberanian negara menegakkan aturannya sendiri. Ketika birokrasi memilih aman, ia memilih berdiri di garis paling depan.
Melalui Gerakan Depok Bersatu (GEDOR), Eman memaksa hukum keluar dari zona nyaman. Kasus Koat Coffee membuka fakta pahit: penindakan baru bergerak setelah tekanan publik menguat. Ini bukan cerita tentang aktivis yang bising, melainkan tentang sistem yang terlalu lama membiarkan pelanggaran.
Di tengah maraknya aktivis yang jinak dan kompromistis di Kota Depok , Eman Sutriadi , tetap konsisten berada di luar lingkar kekuasaan. “Rambut Perak” adalah koreksi keras bagi pemerintah lokal bahwa wibawa negara tidak lahir dari seremonial, tetapi dari keberanian menegakkan aturan tanpa pandang bulu.(AA)

