Senin, Februari 9, 2026
BerandaOpiniJurnalis Bukan Pelayan Pemerintah: Catatan Panjang Perjuangan Pers Indonesia

Jurnalis Bukan Pelayan Pemerintah: Catatan Panjang Perjuangan Pers Indonesia

Refleksi Hari Pers Nasional 2026
Hari Pers Nasional (HPN) bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah monumen sejarah perlawanan, rekam jejak keberanian, dan saksi bisu perjuangan jurnalis Indonesia dalam menegakkan keadilan serta
hak publik atas informasi.

1. Akar Perlawanan: Dari Era

Kolonial ke Reformasi
Sejarah mencatat bahwa pers Indonesia lahir dari tekanan, bukan kenyamanan.

Era Kolonial: Pers menjadi senjata intelektual. Tokoh seperti R.M. Tirto Adhi Soerjo melalui Medan Prijaji membuktikan bahwa tulisan lebih tajam dari pedang.

Orde Lama & Orde Baru: Jurnalis menghadapi sensor, pembredelan, hingga intimidasi fisik.

Kemerdekaan pers di masa ini bukan hadiah, melainkan hasil taruhan nyawa dan kebebasan.
Era Reformasi: Lahirnya UU No. 40 Tahun 1999 menjadi tonggak hukum kemerdekaan pers. Namun, perjuangan belum usai.

2. Tantangan Pers di Era Digital

Saat ini, ancaman terhadap pers telah berubah wajah menjadi lebih sistemik:

Kriminalisasi & Kekerasan Digital: Tekanan tidak lagi selalu berupa pembredelan fisik, melainkan serangan siber dan jeratan hukum.
Paradoks Informasi: Di tengah derasnya arus data, kebenaran sering kali tenggelam oleh hoaks, clickbait, dan algoritma media sosial.

Independensi: Pers dituntut tetap tegak berdiri, menolak menjadi corong kekuasaan atau pelayan kepentingan modal.
“Menulis adalah tanggung jawab, bukan transaksi. Kritik adalah bentuk cinta pada bangsa, bukan permusuhan pada kekuasaan.”

3. Pesan Khusus untuk Jurnalis kota pekan baru

Momentum HPN 2026 menjadi pengingat bagi insan pers di Kota Pekanbaru untuk:
Menjaga Solidaritas: Perbedaan organisasi atau media bukan alasan untuk tercerai-berai. Pers kuat karena keberagaman yang bersatu.

Menjaga Integritas: Kritik terhadap kekuasaan harus tetap berlandaskan pada fakta, hukum, dan etika jurnalistik.
Menjadi Penjaga Nurani: Jangan takut pada tekanan, karena ketika satu jurnalis diserang, sejatinya seluruh pilar pers sedang diuji.
Penutup

Bangsa yang membungkam pers sedang menggali lubang bagi demokrasinya sendiri. Sebaliknya, bangsa yang merawat pers adalah bangsa yang menjaga masa depannya. Mari kita beri penghormatan kepada para jurnalis yang telah berkorban demi kemerdekaan informasi yang kita nikmati hari ini.

Selamat Hari Pers Nasional 2026.
Pers boleh berubah zaman, tapi nurani jurnalis tidak boleh padam.

(Kaperwil/Riau)
Penulis: sawaluddin

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments