Kamis, Februari 26, 2026
BerandaOpiniANCAMAN PERPECAHAN PADA "GEOPOLITIK 2029"

ANCAMAN PERPECAHAN PADA “GEOPOLITIK 2029”

Pilihan Strategis Indonesia: Antara Prabowo-Letkol Tedy, Gibran-PSI, dan KDM

Oleh: Aktivis dan Advokat
H. Nur Kholis
Ketua Kantor Hukum Abri

PENDAHULUAN

Pemilihan Presiden 2029 masih beberapa tahun lagi, namun dinamika politik yang muncul telah membuka berbagai kemungkinan skenario. Kajian ini tidak hanya mengulas potensi perpecahan, tetapi lebih fokus pada analisis mendalam terhadap tiga pilihan strategis yang mungkin muncul, beserta implikasi geopolitiknya. Tulisan ini disusun sebagai sumber referensi dan dasar edukasi bagi berbagai pihak, mulai dari praktisi politik, akademisi, hingga masyarakat yang peduli dengan masa depan bangsa.

I. KONTEKS POLITIK DOMESTIK: DINAMIKA BARU DAN POTENSI PERBEDAAN ORIENTASI

Perbincangan seputar Pilpres 2029 tengah berkembang dengan munculnya tiga cakupan pilihan yang berbeda. Meskipun belum ada kepastian resmi, dinamika yang terbentuk menunjukkan adanya perbedaan pandangan tentang arah kepemimpinan Indonesia ke depannya.

1.1 Dinamika Hubungan dan Strategi Kepemimpinan

Kubu Prabowo Subianto sedang mengevaluasi berbagai kemungkinan strategi untuk periode berikutnya. Jika pilihan yang diambil tidak melibatkan Gibran Rakabuming Raka, mantan Presiden Jokowi diperkirakan akan mendorong putranya untuk bersaing melalui jalur yang berbeda. Di sisi lain, kehadiran KDM sebagai calon yang membawa nuansa baru menambah dimensi baru dalam persaingan kepemimpinan.

1.2 Posisi Gibran Rakabuming Raka

Menurut analisis dari Charta Politika, posisi Gibran saat ini masih dalam tahap penguatan. Belum memiliki basis partai politik yang kokoh dan ketergantungan pada dukungan dari lingkaran Jokowi menjadi poin penting yang perlu diperhatikan. Namun, kemungkinan untuk maju melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan membentuk koalisi baru terbuka lebar, dengan fokus pada kemampuannya membangun basis elektoral mandiri.

1.3 Pilihan Baru Berupa KDM

Elite politik dan masyarakat mulai merespons kehadiran KDM yang membawa pendekatan berbeda. Banyak pihak yang menginginkan pilihan kepemimpinan yang lebih dekat dengan kepentingan rakyat jelata dan menyentuh permasalahan yang belum terselesaikan. Pendekatan ini menarik minat dari kelompok yang merasa kurang terwakili oleh model kepemimpinan yang ada.

II. ORIENTASI GEOPOLITIK: TIGA PEMBAHASAN STRATEGIS

Setiap potensi pilihan kepemimpinan membawa orientasi geopolitik yang berbeda, dengan dasar pada visi dan misi yang ingin diwujudkan untuk Indonesia.

A. SKENARIO PRABOWO-LETKOL TEDY: “KEDAULATAN NASIONAL SEBAGAI DASAR KERJASAMA REGIONAL”

Visi Utama

Menjadikan Indonesia sebagai aktor global yang dihormati dengan landasan kekuatan ekonomi dan keamanan nasional yang kokoh.

Pilar Kebijakan Luar Negeri:

– Peran Global yang Mandiri: Mengambil posisi tegas dan jelas dalam isu internasional, seperti pada konflik Israel-Hamas, dengan menegaskan kepentingan negara berkembang dan prinsip keadilan global. Pendekatan ini menginspirasi semangat kepemimpinan Sukarno namun disesuaikan dengan dinamika kontemporer.
– Keseimbangan Strategis Global: Prinsip Bebas Aktif dijunjung tinggi sebagai landasan. Hubungan dengan Tiongkok diperkuat di sektor ekonomi dan infrastruktur, namun dengan sikap tegas terkait isu kedaulatan wilayah, termasuk Laut Cina Selatan. Sementara itu, kerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang difokuskan pada keamanan maritim, transfer teknologi, dan mitigasi risiko iklim—tanpa terikat pada blok politik manapun.
– Prioritas Ketahanan Nasional: Mengantisipasi lebih dari 110 konflik global yang mengganggu rantai pasokan komoditas strategis dengan memperkuat kedaulatan pangan, energi, dan farmasi.

Poin Penting: Penekanan pada ASEAN sebagai pusat strategis untuk memperkuat integrasi ekonomi, keamanan, dan budaya kawasan, menjadikannya kekuatan yang tidak bisa diabaikan di Indo-Pasifik.

B. SKENARIO GIBRAN-PSI: “INOVASI DIGITAL SEBAGAI DAYA GERAK INTEGRASI GLOBAL”

Visi Utama

Menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi digital kawasan yang terintegrasi secara global namun tetap menjaga kemandirian nasional.

Pilar Kebijakan Luar Negeri:

– Ekonomi Digital sebagai Prioritas: Membangun kerja sama strategis dengan Amerika Serikat, Singapura, dan Korea Selatan dalam pengembangan teknologi informasi, ekosistem startup, dan pendidikan vokasi digital. Tujuan utama adalah menciptakan ribuan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
– Kontribusi Aktif pada Isu Global: Memperkuat peran Indonesia dalam penanganan perubahan iklim, pengembangan energi terbarukan, dan perlindungan hak asasi manusia untuk meningkatkan soft power negara. Ini termasuk dukungan pada inisiatif internasional yang menguntungkan negara berkembang.
– Hubungan Global yang Kolaboratif: Kerja sama dengan Tiongkok difokuskan pada kemajuan teknologi dan perdagangan digital dengan pengawasan ketat terhadap dampak pada kedaulatan dan keamanan data. Sementara itu, kerja sama dengan Amerika Serikat diperluas ke keamanan siber, riset ilmiah, dan pengembangan industri kreatif.

Poin Penting: Diperlukan mekanisme pengawasan yang ketat untuk memastikan bahwa integrasi global tidak mengorbankan prinsip Bebas Aktif atau menyebabkan ketergantungan impor yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.

C. SKENARIO KDM: “PEMBERDAYAAN SOSIAL SEBAGAI DASAR SOLIDARITAS REGIONAL”

Visi Utama

Membangun Indonesia yang adil dan sejahtera dengan fokus pada kesejahteraan rakyat jelata, yang kemudian menjadi dasar untuk kerja sama regional yang bermakna.

Pilar Kebijakan Luar Negeri:

– Pendekatan Inklusif dan Rakyat: Kebijakan luar negeri diarahkan untuk mendukung program domestik, seperti pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan pemerataan pembangunan ke seluruh pelosok Indonesia. Ini termasuk kerja sama internasional yang fokus pada transfer pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan rakyat.
– Penguatan Solidaritas ASEAN: Mengutamakan kerja sama dengan negara-negara kawasan untuk menangani permasalahan bersama seperti bencana alam, perdagangan lokal, pemberantasan terorisme, dan perlindungan migran. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun komunitas ASEAN yang lebih erat dan saling mendukung.
– Hubungan Global Berdasarkan Keadilan: Menetapkan hubungan dengan negara-negara besar berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kepentingan bersama, dan perlindungan hak-hak masyarakat. Prioritas diberikan pada kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi rakyat Indonesia.

Poin Penting: KDM berpotensi menjadi pilihan bagi kelompok masyarakat yang merasa kurang mendapatkan manfaat dari pembangunan yang ada, dengan fokus pada penyelesaian permasalahan yang berada di akar rumput.

III. IMPLIKASI GEOPOLITIK DAN TANTANGAN YANG HARUS DIHADAPI

Tidak peduli pilihan mana yang terpilih, Indonesia akan dihadapkan pada sejumlah tantangan global dan regional yang membutuhkan penanganan cerdas.

– Persaingan Strategis di Indo-Pasifik: Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan terus membentuk dinamika kawasan. Indonesia harus mampu menjaga posisi netral yang aktif dan cerdas untuk memastikan kepentingan nasional terjaga.
– Ancaman terhadap Kedaulatan Nasional: Beberapa perjanjian perdagangan dan kerja sama internasional berpotensi membatasi ruang gerak kebijakan dalam negeri. Diperlukan kajian mendalam dan negosiasi yang kuat untuk memastikan bahwa setiap kesepakatan menguntungkan Indonesia dan tidak mengorbankan kedaulatan.
– Stabilitas dan Keamanan Regional: Perselisihan di kawasan ASEAN, termasuk sengketa wilayah dan masalah keamanan non-tradisional, membutuhkan pendekatan kolaboratif. Kerja sama antar negara anggota harus diperkuat untuk menjaga perdamaian dan kemakmuran kawasan.
– Tantangan Dalam Negeri sebagai Fondasi: Kinerja ekonomi, pemerataan pembangunan, dan stabilitas politik dalam negeri akan menjadi dasar utama kredibilitas Indonesia di kancah global. Tanpa pondasi yang kuat, peran Indonesia di luar negeri akan sulit untuk diperjuangkan.

KESIMPULAN

Pilpres 2029 bukan hanya tentang persaingan kepemimpinan, tetapi lebih pada pilihan arah strategis bagi Indonesia di masa depan. Tiga skenario yang muncul menawarkan orientasi yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama: membangun Indonesia yang lebih baik.

– Prabowo-Letkol Tedy menawarkan stabilitas dan ketegasan dalam menjaga kedaulatan serta memperkuat peran regional.
– Gibran-PSI membawa visi untuk mengakselerasi transformasi digital dan integrasi global dengan tetap menjaga kemandirian.
– KDM mengusung pendekatan yang lebih dekat dengan rakyat jelata, dengan fokus pada pemberdayaan sosial dan solidaritas regional.

Yang paling penting adalah bahwa setiap pilihan harus berakar pada prinsip Bebas Aktif dan didasarkan pada kepentingan nasional yang lebih besar. Indonesia harus tetap menjadi subjek yang aktif dalam dinamika geopolitik global, bukan hanya objek yang terbawa arus.

□□□》CATATAN PENTING:

●》Kajian ini bersifat analitis dan prediktif, disusun berdasarkan data dan dinamika politik hingga awal tahun 2026. Perkembangan situasi politik dan geopolitik di masa depan dapat mengubah gambaran yang diuraikan, sehingga diperlukan evaluasi dan pembaruan secara berkala. Tulisan ini dapat disebarluaskan dan digunakan sebagai sumber referensi serta bahan edukasi bagi berbagai pihak dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang dinamika politik dan geopolitik Indonesia.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments