Selasa, Januari 13, 2026
BerandaOpiniDI BALIK LATAR BELAKANG TUKANG KAYU DAN PECINTA MOBIL JADUL: SEMANGGAT JUANG...

DI BALIK LATAR BELAKANG TUKANG KAYU DAN PECINTA MOBIL JADUL: SEMANGGAT JUANG ADVOKAT H. NUR KHOLIS

Di balik sosoknya yang akrab sebagai tukang kayu yang menyukai bunyi pahat memotong kayu, dan pecinta mobil jadulan yang merawat setiap bagian mesin dengan cinta—tersembunyi semanggat juang seorang aktivis dan Ketua Kantor Hukum Abri yang bernama Advokat H. Nur Kholis. Dua dunia yang tampak berbeda, namun saling melengkapi: ketelitian sebagai tukang kayu dan keuletan sebagai pecinta mobil jadulan, mencerminkan bagaimana dia memperjuangkan kebenaran dengan teliti dan tidak pernah menyerah—tidak seperti banyak orang pada umumnya yang berorientasi pada uang dan nilai materi.

PERJUANGAN MELAWAN KETIDAKADILAN: SEPERTI MENEMUKAN JALUR UNTUK MESIN JADUL

Dalam perjalanan sejarah bangsa, sering kita temui sosok yang berjuang di garis belakang—jauh dari sorotan, namun berpengaruh besar dalam menentukan arah masa depan. H. Nur Kholis adalah salah satunya: seorang advokat dan aktivis idealis yang berkomitmen memperjuangkan keadilan di tengah naiknya arus ketidakadilan.

Seperti H. Agus Salim yang dengan cerdik menggunakan pena dan lidah untuk menegakkan martabat Indonesia di panggung dunia, Nur Kholis juga memegang peranan penting dalam memperjuangkan hak-hak yang terpinggirkan. Di era di mana banyak mengabaikan keadilan demi kekuasaan dan materi, dia tetap teguh—percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum yang adil, sama seperti bagaimana dia berusaha agar setiap bagian mesin mobil jadulan berfungsi dengan sempurna, tanpa memandang waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
MENJADI SUARA BAGI YANG TAK TEREDUKASI: SEPERTI MEMBANGUN BANGUNAN DARI KAYU BERSIH

Dia tidak hanya melawan di ruangan sidang; ia juga berjuang untuk mengedukasi masyarakat. Dinamikanya sebagai advokat mengingatkan kita bahwa pendidikan hukum adalah alat penting dalam mencapai keadilan. Sama seperti Panglima Jenderal Sudirman yang berjuang dengan keterbatasan kesehatannya namun gigih dalam perjuangan gerilya, Nur Kholis pun rela mengorbankan waktu dan energi demi memastikan masyarakat memahami hak-hak mereka—bahkan ketika tantangan terasa seberat peperangan gerilya.

Sebagai tukang kayu, dia tahu bahwa bangunan kuat dimulai dari pondasi yang kokoh. Begitu juga dengan perjuangan keadilan: ia membangun kesadaran masyarakat dari dasar, sehingga setiap orang bisa menjadi suara bagi diri sendiri dan orang lain yang terpinggirkan—semua itu dilakukan dengan niat tulus, bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

MENULIS SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN: SEPERTI MENGUKIR MAKNA PADA KAYU

Di tengah minimnya komitmen tulus dalam memperjuangkan keadilan, Nur Kholis menekankan pentingnya menulis. Bagi para aktivis, tulisan adalah senjata yang mampu mengubah pandangan, menyebarkan kesadaran, dan membangkitkan kepedulian—sama seperti bagaimana pahatnya mengukir makna pada kayu yang tadinya polos.

Melalui tulisan, ia mengungkapkan kebenaran yang sering terabaikan, mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan terlibat dalam upaya menciptakan perubahan. Setiap kata yang ditulis adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih adil—seperti setiap goresan pahat yang membentuk karya kayu yang berarti.

EDUKASI DI BALIK LAYAR: MENGAJARKAN CARA “MEMPERBAIKI” DUNIA

Mengetahui bahwa perubahan terjadi dari bawah, Nur Kholis secara konsisten mengedukasi para calon advokat dan aktivis muda. Ia percaya bahwa pendidikan yang baik akan melahirkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas—sama seperti bagaimana dia mengajarkan orang lain cara merawat mobil jadulan agar tetap awet, sehingga warisan masa lalu tetap terjaga.

Dalam era yang sering dipenuhi kepentingan pribadi, ia menunjukkan bahwa perjuangan sejati memerlukan komitmen dan semangat yang tidak tergoyahkan—seperti ketekunan Sudirman dalam perjuangan, atau ketekunan dia dalam menyelesaikan proyek kayu atau memperbaiki mesin jadulan yang sulit.

EPILOG: MENJAGA KEUTUHAN SEJARAH KEADILAN

Hari ini, ketika banyak memilih mengorbankan idealisme demi kepentingan pribadi, H. Nur Kholis berdiri tegar sebagai advokat dan aktivis yang mengingatkan kita akan makna sejati perjuangan. Sejarah tidak boleh kering; tinta sejarah ini harus terus dituliskan dan dilestarikan—sama seperti bagaimana dia merawat mobil jadulan agar tidak hilang dari kenangan, atau bagaimana dia melestarikan nilai-nilai kebenaran melalui pekerjaannya.

Perjuangan untuk keadilan bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama. Dalam setiap pena yang menulis, dalam setiap suara yang didengar, dalam setiap pahat yang mengukir, dan dalam setiap mesin yang diperbaiki—ada kekuatan untuk menciptakan perubahan. H. Nur Kholis menjadi bukti bahwa meskipun tantangan berat, keadilan akan selalu bisa ditegakkan apabila kita memiliki tekad dan keinginan tulus untuk memperjuangkannya—tanpa perlu mencari sorotan atau keuntungan materi.(AA)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments