Selasa, Januari 13, 2026
BerandaOpiniKebun Binatang Senayan

Kebun Binatang Senayan

Oleh: Yusuf Blegur

DPR, telah lama menjadi stempel kekuasaan bagi kejahatan entitas politik legislatif dan yudikatif. Dari gedung parlemen, berubah menjadi layaknya rumah margasatwa. Habitat Legislator Senayan, sepertinya pantas untuk disebut sebagai kebun binatang.

Warga Jakarta khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya, kini bisa bergembira karena sudah ada wahana kebun binatang baru di daerah Senayan. Kawasan populasi hewan di Senayan, menambah daftar kebun binatang yang sudah ada di ibu kota, yakni; Kebun Binatang Ragunan di bilangan Jakarta Selatan.

Sebelumnya, kawasan tertentu di daerah Senayan itu menjadi tempat orang-orang terhormat dan terpercaya yang mewakili rakyat Indonesia. Orang-orang pilihan yang disumpah, atas nama Tuhan dan berjanji mengemban amanat rakyat. Suaranya, kebijakannya, bahkan seluruh hidupnya sudah tertuang dalam konstitusi mengedepankan kepentingan rakyat.

Namun apa, lacur, yang terjadi pada anggota dewan perwakilan rakyat seiring waktu berjalan, secara perlahan namun pasti terus bertransformasi dari manusia mulia menjadi aneka binatang. Bukan binatang dalam wujud fisik, melainkan sifat dan watak yang tergambar dari ucapan, pola pikir dan perilakunya.

Kebenaran dan keadilan sulit terasa, bahkan sekedar mencium aromanya di tempat yang disebut gedung wakil rakyat itu.

Distorsi penyelenggaraan negara, terlalu sering berujung sah dan resmi melalui sidang parlemen. Entah kegembiraan, atau kesedihan yang menyakitkan. Kehadiran kebun binatang ragunan itu bisa saja menjadi tontonan dan hiburan yang menyenangkan bagi rakyat. Dengan pelbagai atraksi dan keluconannya, mereka tak kalah dengan penampilan badut dan hewan sirkus.

Dalam gempuran pajak yang eksploitatif, kemiskinan yang menyelimuti dan napas sesak menahun rakyat, DPR justru menari-nari, sumringah dan terbahak-bahak penuh kebahagiaan. Terus melahirkan nelangsa rakyat, seraya meminta tambahan gaji dan fasilitas sebagai anggota dewan.

Manusia-Manusia yang dipilih, diangkat status sosial dan drajatnya, karena mewakili amanat rakyat itu justru kerap tidur, bercanda dan berjoget ria kegirangan di tengah kesengsaraan dan penderitaan rakyat yang pilu dan menyayat. Merekalah Orang-Orang berpendidikan yang menyandang gelar pendusta, tuna etika dan cacat moral, hidup glamor dengan banyak previllage.

Sungguh keluconan yang sama sekali tidak lucu, bahkan memuakkan dan teramat menyakitkan. Semestinya, sebelum terlanjur menjadi binatang, mereka harusnya menjadi pemimpin yang amanah. Dengan gaji dan fasilitas mewah yang menggiurkan, mereka berkewajiban menyuarakan hati nurani rakyat, bukan malah sebaliknya mengkhianati dan menyakiti rakyat.

Tapi apa boleh dikata, meski dilahirkan dari rahim rakyat, mereka tumbuh besar dengan kelainan kemanusiaannya. Tanpa hati dan akal yang tunduk pada Tuhan. Merekalah yang punya mata dan telinga, tapi tak mau melihat dan mendengar keluhan rakyat dan perintah Tuhannya. Tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih hina dan sesat lagi. Mengabaikan kebenaran dan keadilan, menjadi orang-orang yang tergolong lalai. Mereka kini, menjadi penghuni Kebun Binatang Senayan. (®)

Bekasi Kota Patriot,
28 Safar 1447 H / 22 Agustus 2025.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments