Selasa, Januari 13, 2026
BerandaDaerahModus Kuota Kapolri : Aipda F dan Bripka AUK Tipu Warga 2.6...

Modus Kuota Kapolri : Aipda F dan Bripka AUK Tipu Warga 2.6 M, Ngarep Anak Masuk Akpol Ujungnya Gagal

Pekalongan, monitorjabarnews.com Aipda F alias Rohim dan Bripka AUK alias Alex, dua polisi aktif menipu habis-habisan warga di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah bernama Dwi Purwanto (42).

Dwi Purwanto kehilangan uang Rp2,6 miliar gara-gara bujukan dua polisi tersebut yang merayu korban dengan modus “kuota Kapolri”. Aipda F dan Bripka AUK menjanjikan anak Dwi Purwanto bisa masuk Akademi Kepolisian (Akpol) melalui kuota Kapolri yang ujungnya gagal seleksi.

Selain dua polisi itu, ada dua warga sipil yang juga turut dilaporkan karena terlibat dalam kasus dugaan penipuan, yaitu Joko dan Agung yang mengaku sebagai adik Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

“Totalnya semua (rugi) Rp2,65 miliar. Saya langsung klarifikasi dan mereka berjanji akan mengembalikan uang, tapi, sampai sekarang belum ada itikad baik,” kata Dwi, Rabu (22/10/2025).

Aipda F alias Rohim bernama lengkap Aipda Fachrurohim yang merupakan anggota Polsek Paninggaran, Polres Pekalongan bukan orang asing bagi Dwi Purwanto. Dwi Purwanto mengaku sudah kenal dengan Aipda F sejak 2011, sehingga sangat kecewa mengetahui fakta polisi itu tega melakukan penipuan terhadap dirinya.

“(Padahal) saya percaya karena sudah kenal Rohim (Aipda F) sejak 2011,” ujar Dwi.

Kasus penipuan bermula saat Aipda F mengirim pesan WhatsApp kepada Dwi pada 9 Desember 2025, berisi penawaran bantuan memasukkan anaknya ke Akpol. Aipda F mengaku bisa membantu anak Dwi masuk Akpol lewat jalur khusus “kuota Kapolri” jika membayar sebesar Rp3,5 miliar.

Dwi awalnya sempat menolak, namun Aipda F gencar “merayunya”. Akhirnya, Dwi pun percaya setelah Aipda F datang ke rumahnya bersama Bripka AUK.

Kepada Dwi, Aipda F dan Bripka AUK mengaku punya kenalan seorang pensiunan jenderal polisi bernama Babe. Mereka juga mengaku kenal dengan sosok Agung yang disebut sebagai adik Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Tak hanya itu, Aipda F dan Bripka AUK juga mengarang cerita, mengatakan ada satu kuota kosong sebab ada satu peserta yang membatalkan pendaftaran.

“Katanya ini kuota khusus, tinggal bayar Rp3,5 miliar. Separuh dulu tanda jadi, sisanya setelah panpus (pantukhir pusat)” jelas Dwi.

“Katanya sebelumnya ada yang mau pakai kuotanya tapi ga jadi karena orangnya daftar tentara, jadinya ada satu kuota kosong,” imbuhnya.

Dwi lantas memberikan uang muka sebanyak Rp500 juta kepada Aipda F dan Bripka AUK pada 21 Desember 2024, di sebuah kafe di Semarang. Dua minggu berselang, Aipda F kembali meminta uang sebanyak Rp1,5 miliar. Alasannya, uang itu digunakan untuk menyelesaikan proses administrasi di Jakarta.

Dwi mengatakan permintaan Aipda F itu terkesan mendesak sebab uang tersebut harus ditransfer maksimal keesokan harinya.

“Mereka mendesak, katanya malam itu juga atau paling lambat besok pagi harus dibayar. Saya sampai pinjam ke saudara yang habis jual dua mobil,” jelas Dwi.

Tak lama setelahnya, Dwi dipertemukan dengan Agung dan Joko. Dua orang ini diperkenalkan sebagai penghubung langsung ke Babe.

“Katanya nanti anak saya akan diurus langsung sama Babe lewat Joko. Jadi semua tahapannya tinggal jalan,” ungkapnya.

Lagi-lagi, Dwi terbujuk rayuan para penipu itu. Ia mentransfer empat kali ke rekening Joko dengan total nominal Rp650 juta. Sayang, anak Dwi dinyatakan gagal saat menjalani seleksi tahap pertama.

Dwi pun meminta kejelasan pada keempat pelaku di mana mereka sempat berjanji akan mengembalikan uangnya. Namun, menurut Dwi, hingga saat ini tak ada itikad baik dari mereka.

Dwi Purwanto mengatakan, kasus dugaan penipuan yang dialaminya sudah naik ke tahap penyidikan. Sebagai pelapor sekaligus korban, Dwi juga sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Akan tetapi Dwi tak tahu apakah para pelaku juga sudah dipanggil, sebab, salah satu pelaku menurutnya kini sedang menjalani pendidikan.

“Saya serahkan semua bukti transfer, percakapan WhatsApp, dan kronologinya,” ujar Dwi.

“Perkembangan penyidik kemarin naik ke Sidik, tingkat sidik. Tetapi kelihatannya belum, belum diproses lagi” imbuhnya.

“Kalau saya sudah dimintai keterangan juga. Sekarang salah satu pelakunya malah sedang pendidikan,” lanjutnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan terhadap laporan tersebut.

“Ini sedang saya cek dulu ke Krimum dan Propam. Nanti kalau sudah lengkap saya kabari,” kata Artanto.

 

 

 

sumber: surya malang

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments